Surabaya, Kampus Ursulin—Sanmaris, Rabu, 24 Juni 2026, pukul 08.00 s.d. 14.00 WIB, bertempat di ruang komputer diselenggarakan kegiatan sarasehan sebagai rangkaian agenda rapat kerja guru untuk mempersiapkan tahun ajaran 2026/2027. Sarasehan yang diikuti oleh para guru SMP Santa Maria Surabaya menghadirkan DR. Ignatius Agus Budiono, M.Pd., pakar pendidikan bidang teknologi pembelajaran, sebagai narasumber utama untuk mengupas topik yang diangkat tentang inovasi pembelajaran.

Serangkaian sarasehan dibuka oleh Martha Sawitri H., S.Pd, Kepala SMP Santa Maria, yang mengungkapkan mengenai latar belakang dan tujuan sarasehan diadakan, yaitu sebagai jawaban atas kebutuhan peserta didik di masa sekarang ini yang lebih menekankan kompetensi atau skill dibandingkan dengan penguasaan materi pembelajaran semata. Beliau menekankan bahwa topik sarasehan yang diangkat yaitu pentingnya inovasi dalam pembelajaran bertujuan untuk membantu menemukan dan menentukan pendekatan yang tepat dalam mengembangkan inovasi pembelajaran di sekolah.
Memasuki acara inti, DR. Ignatius Agus Budiono, M.Pd., menyampaikan materi awal sarasehan tentang tiga dimensi pengetahuan yang sesungguhnya harus diberikan dan dimiliki peserta didik setelah keluar dari ruang kelas. Pertama adalah pengetahuan esensial, yang meliputi pemahaman dasar, teori, dan fakta yang menjadi pilar utama suatu mata pelajaran. Kedua adalah pengetahuan aplikatif, yaitu kemampuan mempraktikkan teori esensial dalam pemecahan masalah dunia nyata. Ketiga adalah pengetahuan nilai karakter, yang berfokus pada pembentukan sikap, empati, dan moral yang terbangun dalam proses refleksi setelah selesai proses belajar.

Untuk mewujudkan dimensi tersebut, narasumber menjelaskan adanya empat teori dasar yang terdiri dari teori behavioristik, teori individu, teori sosial, dan teori konstruktif. Keempat teori ini merupakan empat mesin penggerak nalar yang mengubah ruang kelas menjadi laboratorium kehidupan melalui empat model Sintaks HOTS. Setiap model memiliki rute yang berbeda, namun dirancang untuk tujuan yang sama, yaitu mengubah informasi menjadi permanensi dan aktivitas menjadi transformasi. Model-model pembelajaran tersebut adalah discovery learning, inquiry based learning, problem based learning, dan project based learning.
Lebih lanjut, DR. Ignatius Agus Budiono, M.Pd. mengupas perbedaan mendalam dari keempat model pembelajaran tersebut berdasarkan karakteristik dan matriks waktunya. Pertama, discovery learning: dimulai dari data atau fakta awal yang secara sengaja diberikan, lalu skala hasil akhir yang dihasilkan siswa berupa rumus, teori, dan/atau pemahaman pola baru. Matriks waktu yang diperlukan dalam model pembelajaran ini relatif sangat singkat dan dapat diselesaikan dalam satu sesi pembelajaran. Kedua, inquiry learning: membutuhkan matriks waktu yang relatif singkat hingga menengah (beberapa sesi) dan menghasilkan kesimpulan yang solid berbasis data ilmiah. Ketiga, problem based learning: menghasilkan presentasi laporan pemecahan masalah atau gagasan ide dan matriks waktu yang dibutuhkan bersifat menengah dan memerlukan beberapa pertemuan berkelanjutan.Keempat, project based learning: membutuhkan matriks waktu jangka panjang dengan alokasi waktu berminggu-minggu hingga hitungan bulan, serta menghasilkan karya konkrit seperti maket, video, atau produk belajar lainnya.

Setelah penyampaian materi yang padat dan inspiratif tersebut selesai, agenda sarasehan dilanjutkan dengan sesi tanya jawab dan diskusi. Pada sesi ini, para guru terlibat aktif berbagi pengalaman pembelajaran yang pernah mereka lakukan menggunakan model-model pembelajaran yang ada. Diskusi berjalan hangat dan interaktif saat para peserta mengupas kesulitan serta hambatan yang ditemui saat mendampingi dan membimbing siswa/siswi serta sekaligus merumuskan bagaimana solusi terbaiknya demi kemajuan mutu pendidikan siswa/siswi setelah memperoleh penguatan pengetahuan dan kemampuan dari kegiatan sarasehan. Tepat pukul 14.00 WIB kegiatan sarasehan selesai dan ditutup dengan doa bersama serta diakhiri dengan penyampaian tanda ungkapan terima kasih dari kepala sekolah kepada narasumber.
(Penulis: Ignatius Suhari, Pengampu Bidang Studi Bahasa Indonesia)