Surabaya, Kampus Ursulin – Sanmaris, Masa-masa di kelas 9 seringkali diwarnai dengan berbagai dinamika, mulai dari persiapan masuk ke SMA sampai padatnya aktivitas akademis dan pertanyaan tentang arah masa depan. Untuk sejenak melangkah dari rutinitas dan kembali menemukan kedamaian batin, seluruh siswi/putri kelas 9 SMP Santa Maria Surabaya mengikuti kegiatan retret bertema “The Girl of Light” pada tanggal 7-9 Agustus 2026 di Rumah Retret Bintang Kejora, Pacet. Selama tiga hari dua malam di tengah sejuknya udara Pacet, kami diajak melintasi perjalanan spiritual yang hangat, mendalam dan penuh warna.

Refleksi Diri: Melepas topeng dan menemukan jati diri
Perjalanan hari pertama diawali dengan suasana penuh kehangatan melalui Misa Pembukaan. Sesi awal membawa kami pada perenungan mendalam lewat sesi pertama “Mask Of Life”. Di sesi ini, kami diajak jujur pada diri sendiri dengan merancang simbol topeng yang mewakili cara kita sering bersembunyi di balik ekspektasi orang lain. Apakah itu pura-pura kuat, tampil sempurna atau sekedar ikut-ikutan. Melalui pendalaman materi “Who I Am in Christ?”, pemahaman kami dibuka kembali bahwa menjadi seorang perempuan adalah anugerah yang indah. Kami diajak menyadari bahwa di mata Tuhan, setiap dari kami diciptakan secara unik, berharga dan memiliki harkat yang tidak bisa digantikan oleh penilaian dunia. Sesi dilanjutkan dengan “Rise Against Darkness” dan “The Girl Of Light”, dalam sesi ini kami diajak melepaskan rasa iri, minder serta dendam yang sering kali menjadi kegelapan di hati. Untuk itu, serta kami diajak berkomitmen untuk berani memancarkan terang kebaikan lewat tindakan nyata sehari-hari.

Pemulihan Hati: Relasi Keluarga, Kehormatan Diri dan Keheningan Malam
Hari kedua menjadi puncak proses emosional selama retret berlangsung. Melalui sesi yang bersangkutan dengan keluarga, suasana ruangan menjadi sangat haru. Didampingi oleh tim pendoa, kami melihat kembali hubungan dengan orang tua dan saudara. Banyak yang menangis ketika kami menyadari kasih sayang keluarga yang terkadang diabaikan, lalu menumpahkan rasa syukur dan kerinduan tersebut dalam lembaran surat. Keunikan retret ini semakin terasa saat masuk ke sesi khusus bersama Suster Sita, OSU. Beliau membagi wawasan berharga mengenai kesehatan reproduksi, pentingnya menjaga kehormatan tubuh, panduan berbusana yang santun hingga tips bersikap bijak dalam membangun hubungan pertemanan yang sehat. Semua proses perenungan, doa dan materi dari sesi ke sesi kami catat secara pribadi melalui “Shine Journal: My Light Journey with God” Malam harinya, suasana pacet yang hening menjadi saksi indah yaitu pada sesi Adorasi Sakramen Mahakudus, pengakuan dosa dan doa rosario bersama. Sesi ini menjadi momen pemulihan yang begitu menenangkan sebelum akhirnya ditutup dengan penampilan, dimana setiap kelompok menampilkan kreativitas, lagu dan kebersamaan yang di penuhi tawa.
Mempersatukan Hati
Salah satu hal paling indah dan berkesan dari retret The Girl of Light adalah bagaimana kegiatan ini berhasil meruntuhkan dinding pemisah di antara sesama perempuan. Kalau biasanya di sekolah kita masih suka di sirkel pertemanan masing-masing. Di Pacet kemarin semua batasan itu hilang. Tidak peduli biasanya bermain sama siapa, di retret ini semua benar-benar merasa jadi satu angkatan. Semua orang mau duduk bareng, saling terbuka, ketawa bareng dan ngobrol seru sama siapa aja tanpa rasa canggung sama sekali.

Menjadi Terang yang Membawa Berkat
Retret The Girl Of Light bukanlah sekedar acara tahunan biasa, tapi benar-benar jadi momen penting buat kita belajar kita semakin dewasa. Kita diajarkan kalau untuk jadi terang, kita tidak perlu menjadi paling menonjol atau paling jago. Jadi terang cukup dengan jadi pribadi yang membawa kedamaian, punya rasa empati, lemah lembut dan berani menebar kebaikan dimanapun kita berada.
Walaupun acara di Bintang Kejora sudah selesai, perjalanan kita sebenarnya baru aja dimulai. Kita siap kembali ke rumah dan sekolah dengan rasa kebersamaan yang baru, semakin solid dan siap jadi The Girl Of Light yang membawa dampak positif bagi sesama kita.
(Penulis: Hazel Anja Sutikno, 9E/11)