News &
Updates

News Image

Share

Retret Kelas 9 Tahun Ajaran 2026/2027: “Warrior of Light”
4 September 2026

Surabaya, Kampus Ursulin—Sanmaris, Retret kelas 9 tahun ajaran 2026/2027 dilaksanakan pada 7–9 Agustus 2026 di Bintang Kejora, Pacet. Kegiatan retret dibagi menjadi dua rangkaian, yaitu retret putra dan retret putri. Dalam retret putra, kami diajak untuk menjadi pria yang berani, beriman, dan mampu membawa harapan, serta menjadi Warrior of Light atau anak terang bagi keluarga dan lingkungan sekitar. ‎Selain menjadi kegiatan pembinaan iman, retret ini juga menjadi kesempatan bagi kami untuk membangun kebersamaan dan menciptakan kenangan sebelum akhirnya memasuki tahap baru dalam kehidupan sekolah. Selama retret, kami diajak untuk mengenal diri sendiri, memahami peran sebagai seorang pria, memperbaiki hubungan dengan Tuhan dan keluarga, serta belajar menjadi terang bagi orang-orang di sekitar.

‎‎Hari Pertama — Mengenal Diri dan Menjadi Warrior of Light

‎‎Pada 7 Agustus 2026, kegiatan diawali dengan empat sesi yang berfokus pada pengenalan diri dan pembentukan karakter. Sesi pertama, “Unmask the Warrior”, mengajak kami untuk melepaskan “topeng” yang selama ini digunakan dalam kehidupan sehari-hari. Topeng tersebut menggambarkan sifat atau sikap yang terkadang kita tunjukkan kepada orang lain, tetapi tidak sepenuhnya mencerminkan diri kita. Melalui sesi ini, kami belajar untuk berani menjadi diri sendiri tanpa terus-menerus takut terhadap penilaian orang lain.

‎Selanjutnya, “Who Am I in Christ?” mengajak kami memahami identitas seorang pria dalam iman. Seorang Young Boy dipanggil untuk menjadi Leader, Guardian, dan Lover—memimpin dengan bijaksana, menjaga orang-orang di sekitarnya, serta mengasihi dengan tulus. Dari sini, kami belajar bahwa menjadi seorang pria bukan sekadar tentang kekuatan, tetapi juga tentang tanggung jawab dan kepedulian. Pada sesi ketiga, “Rise Against Darkness”, kami diajak untuk meninggalkan berbagai bentuk “kegelapan” dalam diri, seperti kebencian, dendam, dosa, dan hal-hal yang menghambat kita untuk berkembang. Kami belajar untuk bangkit, meninggalkan masa lalu, dan kembali berjalan menuju kehidupan yang penuh terang.

‎Hari pertama ditutup dengan sesi “The Warrior of Light”. Pada sesi ini, kami diajak untuk menghayati sebuah komitmen: “I am the Warrior of Light. I am chosen.” Kami diingatkan bahwa setiap pribadi dibentuk dan ditenun oleh tangan Tuhan sebagai sebuah mahakarya. Karena itu, kami memiliki panggilan untuk menjalani hidup sesuai dengan kehendak Tuhan, bukan sekadar mengikuti gambaran dunia tentang bagaimana seharusnya seorang pria. Hari pertama menjadi awal perjalanan untuk mengenal siapa diri kami sebenarnya. Kami tidak hanya belajar tentang menjadi seorang pria, tetapi juga tentang bagaimana menjalani kehidupan berdasarkan nilai dan kehendak Tuhan.

‎Hari Kedua — Tuhan, Keluarga, dan Menjadi Berkat

‎‎Memasuki 8 Agustus 2026, rangkaian kegiatan dilanjutkan dengan sesi-sesi yang semakin mendalam. Kali ini, kami diajak melihat hubungan antara diri sendiri, Tuhan, keluarga, serta orang-orang di sekitar.

‎Sesi “Me and God” menjadi kesempatan untuk merefleksikan hubungan pribadi kami dengan Tuhan. Kami diajak bertanya kepada diri sendiri: Seberapa jauh saya benar-benar mengenal Tuhan? Apakah hubungan saya dengan-Nya sudah menjadi bagian penting dalam kehidupan sehari-hari? Pertanyaan-pertanyaan tersebut membantu kami melihat kembali perjalanan iman masing-masing.

‎Kemudian, melalui “In the Womb of My Family”, kami diajak melihat keluarga dari sudut pandang yang lebih luas. Keluarga merupakan tempat pertama bagi setiap orang untuk belajar tentang kehidupan. Orang tua belajar mendidik dan memahami anak, sementara anak juga belajar untuk bertumbuh, menghormati, dan menjadi pribadi yang baik. Dari sesi ini, kami menyadari bahwa menjadi terang juga dimulai dari keluarga sendiri. ‎Setelah itu, kami diajak untuk melihat kembali hubungan dengan saudara melalui sesi “Heart of My Family”. Kami belajar mengenali orang-orang terdekat dengan lebih dalam serta berani mengampuni kesalahan dan melepaskan dendam yang mungkin selama ini masih tersimpan.

‎Sesi berikutnya, “Purity and Power”, mengingatkan kami mengenai pentingnya menjaga kemurnian diri. Sebagai laki-laki, kami diajak untuk menghormati diri sendiri sekaligus menghormati teman perempuan. Kekuatan seorang pria bukan hanya terlihat dari keberanian dan ketegasannya, tetapi juga dari kemampuannya untuk menghargai orang lain dan menjaga sikap. Dalam sesi “Broken Vessel”, kami diajak untuk menghadapi berbagai hal yang selama ini menjadi beban, seperti ketakutan, kegelisahan, kemarahan, kekecewaan, maupun masalah dalam kehidupan. Melalui simbol kendi yang dihancurkan, kami belajar bahwa terkadang kita perlu berani meninggalkan hal-hal yang menghambat agar dapat memulai lembaran yang baru bersama Yesus.

‎Perjalanan tersebut kemudian membawa kami pada “Born to Bless”. Setelah belajar menerima diri dan melepaskan berbagai beban, kami diajak untuk menjadi pribadi yang membawa berkat. Menjadi terang tidak berhenti pada diri sendiri, tetapi diwujudkan melalui keluarga, saudara, teman, dan lingkungan sekitar. Rangkaian kegiatan kemudian dilanjutkan dengan adorasi dan pengakuan dosa. Suasana menjadi lebih tenang dan reflektif karena kami diberi kesempatan untuk kembali mendekat kepada Tuhan, menyadari kesalahan, serta memperbarui hubungan dengan-Nya.

‎Malam harinya, suasana berubah menjadi lebih meriah melalui “Ignite the Light”. Setiap kelompok menampilkan kreativitas mereka melalui drama, lagu, maupun pertunjukan lainnya. Waktu persiapan yang terbatas justru membuat kebersamaan, kerja sama, dan kreativitas semakin terasa. Malam tersebut menjadi salah satu momen yang berkesan karena kami dapat bersukacita, memuji Tuhan, dan menikmati kebersamaan sebagai satu angkatan.

‎‎Rangkaian retret kemudian mengarah pada pesan tentang keluarga sebagai berkat terbesar melalui sesi “Family is the Greatest Blessing” dan dilanjutkan dengan “Rebuilding Family’s Love”. Kedua sesi tersebut mengingatkan kami bahwa keluarga merupakan bagian penting dalam perjalanan hidup, sehingga kasih, komunikasi, pengampunan, dan kebersamaan perlu terus dibangun.

‎Penutupan — Menjadi Api di Tengah Kegelapan

‎Retret akhirnya bukan sekadar kegiatan selama beberapa hari di Bintang Kejora. Lebih dari itu, retret menjadi sebuah perjalanan untuk mengenal diri, memperkuat iman, memperbaiki hubungan dengan keluarga, serta memahami tanggung jawab sebagai seorang pria. Kami menyadari bahwa menjadi seorang pria memiliki tanggung jawab yang besar. Kami dipanggil untuk berani mengambil sikap, menjaga orang-orang di sekitar, mengasihi dengan tulus, serta membawa harapan di tengah berbagai tantangan kehidupan. Meskipun retret telah berakhir, semangat untuk menjadi Warrior of Light tidak boleh berhenti ketika kami meninggalkan Bintang Kejora. Kami ingin terus membawa terang ke dalam keluarga, sekolah, pertemanan, dan lingkungan sekitar. Kami sedang belajar menjalani hidup dan menemukan jalan yang sesuai dengan rencana Tuhan.

 

‎(Penulis: Jeremy Yonathan A., 9D/11)