Surabaya, Kampus Ursulin—Sanmaris, Jumat (27/2/2026), dalam upaya membangun kolaborasi yang efektif dan perspektif baru antara sekolah dengan orang tua murid untuk mendampingi para murid di era disrupsi, era perubahan fundamental dalam sistem, industri, atau tatanan kehidupan yang terjadi akibat inovasi atau teknologi baru, maka dalam rangkaian kegiatan perayaan 75 Tahun SMAK St. Louis 1 Surabaya digelar talk show pendidikan bertema “Kolaborasi Sekolah dan Orang Tua dalam Mempersiapkan Generasi Emas Indonesia 2045”, di Lazaris Hall dan diikuti oleh romo, suster, frater, serta bapak/ibu Kepala SMP dan SMA Katolik BKS se-Surabaya dan Sidoarjo, serta para orang tua murid.

Narasumber pertama yang dihadirkan dalam talk show tersebut, yaitu Antonius Murtoyo, Presiden Direktur PT. Champion Pacifik Indonesia Tbk, yang membagikan pengalaman suka duka selama studi di SMAK St. Louis 1 Surabaya dan lulus pada tahun 1975 serta kiat-kiat sebagai orang tua dalam pendampingan anak, terutama untuk memberikan dukungan penuh terhadap hobi, talenta, dan pilihan bebas anak untuk menentukan cita-cita atau masa depannya. Menurutnya, orang tua sebaiknya tidak bersikap otoriter atau memaksakan kehendak kepada anaknya, namun lebih menekankan pada pendampingan yang saling menghargai dan mempercayai anak, terutama dalam pembentukan karakternya. Di akhir sesi, sebagai refleksi bersama sebagai orang tua, Antonius Murtoyo, menyampaikan 3 ciri sifat manusia, yaitu pertama, kekanak-kanakan dengan ciri suka merengek (negatif) dan mudah diatur (positif); kedua, kebapakan dengan ciri suka menolong (positif) dan diktator (negatif); dan dewasa dengan ciri mampu bersifat adil, mendengarkan, dan bersifat empati.
Selepas sesi tanya jawab bersama narasumber pertama, kegiatan talk show dilanjutkan dengan menghadirkan narasumber kedua, Prof. Rhenald Kasali, Ph.D, Guru Besar FEB Universitas Indonesia sekaligus Founder Rumah Perubahan, untuk mengupas lebih dalam berkaitan tema yang diangkat. Generasi emas adalah keadaan suatu negara, khususnya Indonesia, memiliki jumlah usai produktif yang jauh lebih besar daripada usia nonproduktif, ungkap Prof. Rhenald mengawali sesinya. Namun, proses menuju ke masa generasi emas tidaklah mudah karena banyak tantangan yang dihadapinya. Menurut Prof. Rhenald, tantangan itu berupa keadaan anak-anak kita saat ini yang mengalami kondisi speed versus bingung, yang ditandai dengan takut salah dan overthinking, kondisi tekanan sosial dan mental berupa terjadinya perbandingan sosial dan takut gagal, keadaan global competition di bidang bahasa, self development serta mental, dan kondisi peran pengasuhan orang tua atau parenting yang cenderung intervensi, mengatur/menetapkan, dan overprotective.

Selain itu, menurut Prof. Rhenald, juga adanya tantangan fakta-fakta masa depan berupa perkembangan teknologi AI (Artificial Intelligence) yang berpotensi mengurangi peran guru dan dosen, keadaan anak-anak muda yang cenderung akan berganti karir 6-8 kali, serta akan terjadinya automation (otomatisasi), yaitu penggunaan teknologi, perangkat lunak, atau mesin untuk menjalankan tugas dan proses secara mandiri tanpa intervensi manusia secara langsung sebagai penanda global competition. Dalam menghadapi semua tantangan itu untuk mewujudkan generasi emas, Prof. Rhenald, menegaskan yang utama adalah dibutuhkan sikap yang mau menerima perubahan yang selalu terjadi dan memiliki self driving yaitu kemampuan mengelola diri sendiri, disiplin, berani mengambil risiko, dan menjadi agen perubahan dalam situasi apa pun
Di penghujung sesinya, Prof. Rhenald menyampaikan pesan untuk membangun manusia dibutuhkan pemahaman dan kesadaran bahwa pada setiap orang memiliki kecepatan, kemampuan, dan panggilan yang berbeda. Keberhasilan tidak bisa disamaratakan; yang terpenting adalah mencintai pekerjaan, menjalaninya dengan tanggung jawab, hidup mandiri, serta memiliki kehidupan rohani dan sosial yang baik disertai dengan karakter yang kuat.
Melalui kegiatan talk show pendidikan ini diharapkan menjadi salah satu sarana untuk mempererat sinergi antara sekolah dan keluarga sebagai dua pilar utama pendidikan melalui kolaborasi yang kuat dan berkelanjutan untuk menyiapkan generasi muda yang berkarakter, kompeten, dan siap menjadi bagian dari Generasi Emas Indonesia 2045. Selepas pemberian tanda ungkapan terima kasih kepada kedua narasumber dan dilanjutkan foto bersama seluruh peserta, kegiatan talk show pendidikan berakhir.
(Penulis: Ignatius Suhari, Humas SMP Santa Maria)