News &
Updates

News Image

Share

Healing Eight Stages of Life: Bukan Sekadar Healing, tetapi Penyembuhan Batin dalam Retret Guru dan Tenaga Pendidikan Tahun 2026
19 Oktober 2026

Surabaya, Kampus Ursulin—Sanmaris, Para guru dan tenaga kependidikan di lingkungan Kampus Ursulin Yayasan Paratha Bhakti Surabaya mengikuti retret tahunan yang diselenggarakan pada 14–16 Oktober 2026 di Rumah Retret Bintang Kejora, Pacet, Mojokerto. Mengusung tema Healing Eight Stages of Life, kegiatan ini bertujuan memperdalam spiritualitas, mengenali diri, dan meneguhkan panggilan sebagai pendidik. Retret ini diikuti oleh berbagai unit di lingkungan Kampus Ursulin yang diatur dalam 3 gelombang pelaksanaan. Unit SD Santa Maria Surabaya dan SMP Santa Maria Surabaya mendapatkan kesempatan di di gelombang kedua untuk mengikuti kegiatan retret bersama. Serangkaian kegiatan retret dibuka secara resmi oleh perwakilan Yayasan Paratha Bhakti, Sr. Kristofora Bhoko, OSU, yang akrab disapa Sr. Kristo. Dalam sambutannya, Sr. Kristo memperkenalkan narasumber retret, Fidelis Waruwu, M.Sc.Ed., seorang pakar pendidikan sekaligus psikolog yang akrab dipanggil Pak Fidelis.

Pada hari pertama, Pak Fidelis mengajak para peserta mengenali diri melalui refleksi perjalanan hidup, terutama pengalaman masa kanak-kanak yang dapat memengaruhi pembentukan kepribadian ketika dewasa. Sesi berlangsung interaktif melalui tanya jawab dan berbagi pendapat. Menjelang akhir sesi, peserta mengisi lembar Family of Origin Inventory (FOI), yaitu instrumen refleksi mengenai pengalaman keluarga asal, termasuk relasi dengan ayah dan ibu. Melalui kegiatan ini, peserta diajak menelusuri pengalaman masa lalu yang mungkin memengaruhi cara mereka berpikir, bersikap, dan membangun relasi dengan orang lain.

Pada hari kedua, kegiatan diawali dengan ibadat pagi dan sarapan bersama, kemudian dilanjutkan dengan pendalaman hasil refleksi FOI. Pak Fidelis memperkenalkan konsep inner child, yaitu istilah untuk memahami jejak pengalaman masa kanak-kanak yang dapat memengaruhi kehidupan seseorang ketika dewasa. Para peserta berdiskusi dalam kelompok untuk berbagi pengalaman dan merefleksikan dinamika kehidupan keluarga masing-masing. Suasana kegiatan berlangsung hangat dan penuh sukacita. Selain mengikuti sesi refleksi, peserta juga terlibat dalam kegiatan ice breaking yang menciptakan suasana akrab dan menyenangkan di tengah proses pendalaman diri.

Memasuki hari ketiga, refleksi diarahkan pada peran peserta sebagai pendidik, khususnya dalam memahami perkembangan kepribadian dan kebutuhan emosional para murid. Pak Fidelis mengajak para guru menciptakan suasana pembelajaran yang aman, nyaman, dan mendukung pertumbuhan peserta didik. Melalui diskusi dan tanya jawab, peserta bertukar pikiran mengenai cara mendampingi murid yang memiliki pengalaman masa lalu yang kurang menyenangkan. Para guru juga diajak membangun relasi yang positif dengan rekan kerja di lingkungan sekolah. Rangkaian kegiatan dilanjutkan dengan penyusunan rencana tindak lanjut (RTL), yaitu komitmen untuk melaksanakan langkah-langkah konkret selama 30 hari ke depan di unit masing-masing.

Seluruh rangkaian retret ditutup dengan Perayaan Ekaristi sebagai ungkapan syukur atas pengalaman dan proses refleksi yang telah dijalani. Perayaan Ekaristi dipersembahkan dengan berbagai ujud dan intensi doa dari Unit SD dan SMP Santa Maria Surabaya, dengan RD. Agustinus Ferdian Dwi Prasetiyo, yang akrab disapa Romo Ferdian, sebagai selebran. Dalam homilinya, Romo Ferdian mengajak para guru memaknai tugas sebagai pendidik bukan sekadar pekerjaan, melainkan panggilan yang kudus. Panggilan tersebut diwujudkan melalui tanggung jawab mendampingi dan mengarahkan para murid agar bertumbuh dalam nilai-nilai kehidupan serta mengalami kehadiran Kerajaan Allah melalui pendidikan. Semangat ini sejalan dengan Cura Animarum, yang berarti pemeliharaan jiwa-jiwa, sebagai pengingat bahwa pendidikan turut memperhatikan perkembangan manusia secara utuh.

Setelah Perayaan Ekaristi, para peserta menikmati santap siang bersama sebelum kembali ke Surabaya dan melanjutkan aktivitas di unit masing-masing. Retret tahunan ini menjadi momentum untuk memperbarui semangat pelayanan, mengenali diri secara lebih mendalam, serta meneguhkan komitmen dalam mendampingi para murid. Melalui tema Healing Eight Stages of Life, para guru diajak menyadari bahwa menjadi pendidik yang baik juga berarti bersedia terus bertumbuh, memulihkan diri, dan membangun relasi yang semakin manusiawi. Dengan demikian, pengalaman retret diharapkan tidak berhenti sebagai kegiatan tahunan, tetapi menjadi inspirasi nyata dalam kehidupan pribadi, relasi antarrekan kerja, dan pelayanan pendidikan di lingkungan Kampus Ursulin.

 

(Penulis: Yustinus Chrisna Surya Putra, S.Fil., Pengampu Bidang Studi Pendidikan Agama Katolik dan Budi Pekerti).