News &
Updates

News Image

Share

Hadir Seutuhnya: Mendampingi Langkah Remaja Menuju Masa Depan.
19 Januari 2026

Surabaya, Kampus Ursulin – Sanmaris, Sabtu, 17 Januari 2026, SMP Santa Maria mengadakan kegiatan Parenting untuk siswa kelas 8 dan 9 dengan tema, Konvensi Hak Anak: Peran Orang Tua Mendampingi Remaja. Kegiatan ini merupakan salah satu komitmen dari SMP Santa Maria untuk berkolaborasi bersama dengan orang tua dalam mendidik putra/i yang telah dipercayakan oleh Tuhan kepada kita. Melalui seminar parenting ini para orang tua yang hadir dapat belajar bagaimana mendampingi putra/I mereka yang sudah memasuki usia remaja.
 


Kegiatan dibuka dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya dan Serviam dilanjutkan dengan sambutan oleh Kepala Satuan Pendidikan SMP Santa Maria, Martha Sawitri Handayani. Pada kesempatan ini beliau membacakan sebuah puisi karya Kahlil Gibran, ‘Anakmu Bukanlah Milikmu’, sebuah puisi yang mengajarkan bahwa anak adalah titipan kehidupan bukan milik orang tua. Dalam puisi ini orang tua digambarkan sebagai sebuah busur dan anak sebagai anak panah dan pemanah adalah Tuhan sendiri. Orang tua hanya bisa memberikan cinta dan berpasrah pada Sang Pencipta ke arah mana panah akan dilepaskan menuju ke masa depan yang terbaik bagi anak.  

Setelah itu kegiatan masuk ke acara utama yakni pemaparan materi oleh narasumber kegiatan, Bekti Prastiyani, beliau merupakan Ketua Asosiasi Pendidik Berpersfektif Hak Anak. Pada kesempatan ini beliau menyampaikan besarnya peran orang tua dalam mendampingi anak-anak mereka yang sudah memasuki usia remaja dan bahwa cara mendidik di masa lalu sudah tidak sesuai dengan generasi sekarang karena anak-anak pada generasi ini bertumbuh tanpa menyelesaikan piramida motorik dan sensorik yang sangat vital bagi perkembangan mereka. Hal ini karena anak-anak saat ini dibesarkan dengan gadget yang merupakan alat bermain mereka sehingga kepekaan mereka berbeda dengan generasi terdahulu yang menghabiskan masa kecil dengan permainan tradisional dan lebih dekat dengan lingkungan alam di sekitar mereka.  Oleh sebab itu untuk pendekatan dengan anak-anak di masa kini beliau menyarankan tidak lagi dengan kalimat perintah namun dengan pertanyaan dan kata ‘maaf’ karena Gen Alpha butuh untuk merasa dihargai.

Bekti Prastiyani juga menjelaskan mengenai Empat Dasar Hak Anak yang merupakan Hak Atas Kelangsungan Hidup, Hak Untuk Tumbuh Kembang, Hak Atas Perlindungan, dan Hak Untuk Berpartisipasi. Keempat Hak Dasar tersebut perlu dipenuhi agar anak mendapatkan jaminan hidup yang layak, terlindungi dari bahaya, serta didengar suaranya agar mereka terbentuk menjadi generasi yang berkualitas dan berkarakter kuat. Namun orang tua seringkali mengabaikan Hak Untuk Berpartisipasi dengan mengabaikan pendapat anak padahal mendengarkan, menghormati, dan mempertimbangkan dengan sungguh-sungguh pandangan anak dapat menstimulasi/membantu pengembangan kecerdasan emosi/mental bukan hanya kecerdasan intelektual anak. 

Lebih lanjut Bekti Prastiyani juga menjelaskan perilaku orang dewasa di sekitar sebagai sumber emosi negatif pada anak yakni; Penolakan, Pengabaian, Teror, Isolasi, dan Merusak Moral. Penolakan dan Pengabaian pada anak bisa sangat merusak karena menyebabkan masalah emosional seperti kecemasan, depresi, dan rendah diri. Perilaku Teror seperti marah dan mengkritik anak dapat membuat mereka tumbuh menjadi pribadi yang sulit mengambil keputusan dalam hidupnya. Sedangkan perilaku Isolasi yang melarang anak dalam pergaulan dapat menghambat interaksi sosial yang sangat penting bagi tumbuh kembang anak. Sedangkan Merusak Moral adalah orang tua mencontohkan perilaku yang tidak baik kepada anak sehingga anak kehilangan pedoman mengenai mana hal yang baik dan benar.



Setelah pemaparan materi, kegiatan berikutnya adalah tanya jawab. Pada sesi ini para orang tua yang hadir dapat mengajukan pertanyaan atau meminta saran kepada narasumber tentang cara yang terbaik untuk mendidik anak Gen Alpha. Selanjutnya di bagian akhir dari kegiatan parenting ini para tenaga pendidik, tenaga kependidikan, serta Komite Orang Tua mendeklarasikan dan menandatangani komitmen untuk mewujudkan Sekolah Ramah Anak sebagai berikut;

Kami Keluarga Besar SMP Santa Maria Surabaya Mendeklarasikan dan Siap Berkomitmen untuk Mewujudkan Satuan Pendidikan Ramah Anak:

  1. Mewujudkan satuan pendidikan yang memenuhi hak dan melindungi peserta didik selama mereka ada di satuan pendidikan.
  2. Mewujudkan kondisi satuan pendidikan yang bersih, aman, ramah, indah, inklusif, sehat, asri, dan nyaman bagi perkembangan peserta didik.
  3. Melaksanakan disiplin tanpa kekerasan dan tanpa merendahkan martabat peserta didik serta membentuk unit penanganan kasus yang ramah anak di satuan pendidikan.
  4. Membuat dan melaksanakan program serta kegiatan dengan landasan prinsip, nondiskriminasi, kepentingan terbaik bagi anak, memenuhi hak hidup dan tumbuh kembang anak serta partisipasi anak.
  5. Semua orang dewasa akan memberikan teladan yang baik untuk peserta didik.
  6. Peserta didik menjadi duta satuan pendidikan ramah anak dan orang dewasa di satuan pendidikan menjadi orang tua dan sahabat anak.
  7. Menciptakan satuan pendidikan bebas dari vandalisme, kekerasan fisik dan nonfisik.
  8. Menciptakan lingkungan satuan pendidikan yang menyediakan makanan sehat, informasi layak anak, (bebas pornografi dan porno aksi), kawasan tanpa asap rokok, kawasan tanpa napza, aman bencana, dan mencegah anak dari radikalisme serta perlakuan salah lainnya.

      Perjalanan mendampingi remaja memang penuh tantangan, namun langkah kecil seperti meluangkan waktu lima belas menit setiap hari untuk mendengar tanpa menghakimi bisa 

 

memberikan dampak yang luar biasa. Mari kita terapkan ilmu yang telah didapat hari ini dan mulai membangun hubungan yang lebih harmonis dengan putra/putri kita. Karena pada akhirnya, kehadiran kita adalah hadiah terbaik bagi mereka.

Penulis: Bernard Rizky Noweng, S.Pd