News &
Updates

News Image

Share

Dari Karya Menjadi Gerak
26 September 2026

Surabaya, Kampus Ursulin—Sanmaris — Jumat, 25 September, Aula Lantai 4 Kampus Santa Maria Surabaya dipenuhi semangat dan keceriaan siswa kelas 8 SMP Santa Maria Surabaya dalam kegiatan kokurikuler bertema “Apresiasi Budaya Bangsa.” Kegiatan yang berlangsung pukul 07.50–11.30 WIB ini mengajak para siswa untuk mengenal, menghargai, sekaligus melestarikan budaya Indonesia melalui tari jaranan. “Apresiasi budaya tidak hanya dengan mengenal, tetapi juga melestarikan,” pesan Bu Martha, Kepala SMP Santa Maria, dalam sambutannya saat membuka rangkaian kegiatan. Kegiatan diawali dengan pemantapan kembali gerakan tari, kemudian dilanjutkan dengan geladi bersih sebelum para siswa menampilkan tarian mereka.

Kegiatan kokurikuler ini tidak hanya berfokus pada penampilan tari, tetapi telah melalui proses pembelajaran yang dilakukan secara bertahap. Para siswa terlebih dahulu mengikuti literasi mengenai tari jaranan untuk memahami asal-usul, makna, gerakan, serta nilai budaya yang terkandung di dalamnya. Setelah itu, mereka membuat sketsa jaranan, kemudian mewujudkannya menjadi properti jaranan dan pecut. Seluruh properti yang digunakan dalam penampilan merupakan hasil karya masing-masing siswa yang dibuat selama empat hari. Dalam proses mempelajari gerakan tari, para siswa juga mendapatkan pengalaman langsung dari Kak Angel dan Kak Wawa, narasumber yang berpengalaman dalam tari jaranan. Kehadiran mereka membantu siswa memahami teknik gerakan sekaligus membuat proses belajar menjadi lebih menyenangkan.

Setelah melewati rangkaian proses tersebut, tiba saatnya para siswa membawa hasil kerja keras mereka ke atas panggung. Geladi bersih menjadi kesempatan untuk memantapkan kekompakan, posisi, serta gerakan sebelum penampilan direkam dan dinilai oleh bapak dan ibu guru. Namun, proses pengambilan video tidak berlangsung hanya sekali. Gerakan tari harus diulang hingga empat kali untuk pengambilan video, sehingga sebagian siswa mulai merasakan lelah setelah terus bergerak dan mengulang koreografi. Meski begitu, rasa lelah tersebut tidak mengurangi semangat mereka untuk menyelesaikan penampilan secara maksimal. Justru dari proses tersebut, siswa belajar bahwa sebuah karya yang baik membutuhkan kesabaran, ketekunan, kerja sama, dan kemauan untuk mencoba kembali ketika hasil pertama belum sesuai harapan.

Lebih dari sekadar belajar menari, kegiatan ini memberikan pengalaman bermakna bagi siswa kelas 8 dalam menghidupkan nilai-nilai Serviam. Melalui pembuatan properti, latihan, hingga penampilan bersama, siswa belajar menerapkan totalitas, persatuan, keberanian, integritas, serta semangat pelayanan. Setiap siswa memiliki peran yang saling melengkapi sehingga sebuah tarian dapat menjadi pertunjukan yang utuh. Kegiatan kokurikuler ini membuktikan bahwa apresiasi budaya tidak cukup hanya dengan mengenalnya, tetapi juga dengan mau mempelajari, menciptakan, dan melestarikannya. Dari sebuah properti yang dibuat dengan tangan sendiri hingga setiap gerakan yang dilakukan bersama, tari jaranan menjadi lebih dari sekadar tarian, namun juga menjadi pengalaman untuk mengenal budaya bangsa sekaligus belajar menjadi pribadi yang mampu menghargai karya yang telah dibuat, bekerja sama, dan terus memberikan yang terbaik dalam setiap tugas yang diberikan.

(Penulis: Skolastika Zefanya Alona, 8C/34)